Oleh: Paulus Bambang W.S.
Pencerahan segera muncul tatkala Thomas L. Friedman, peraih tiga kali penghargaan Pulitzer Prize, berdiskusi dengan Nandan Nilakani, bos Infosys. Kesimpulannya: “The playing field is being leveled.”. Kalimat sederhana ini rupanya terus berputar di otak kiri dan kanan Tom, begitu orang memanggilnya. Dan, bagi seorang Tom, itu berarti tambahan pendapatan jutaan dolar jika ia mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ternyata, beberapa saat kemudian, Tom berhasil. Baginya, kalimat Nandan itu berarti “The playing field is being flattened.”.
Maka, lahirlah buku The World is Flat, yang kini naik daun. Mungkin sudah sulit dicari karena habis stocknya (benar-benar laku, sampai habis yang dipasaran)
Menurut Friedman, ada tiga tanda utama yang menggerakkan tujuh tanda lainnya—sebuah terobosan yang membuat dunia menjadi sangat datar. Pertama, keruntuhan Tembok Berlin pada 9 November 1989 yang juga simbol keruntuhan sebuah ketertutupan manusia untuk berhubungan dengan sesamanya. Keruntuhan ini bukan soal Barat dan Timur, bukan soal AS dan Rusia, melainkan soal transformasi manusia menuju sebuah dunia yang terbuka lebar tanpa batasan.
Kedua, keruntuhan tembok informasi berkat hadirnya Netscape sebagai perusahaan publik pada 9 Agustus 1995. Netscape, kalau dianalisis dengan metode Jim Collins dalam Good to Great pasti akan gagal, tetapi kalau disoroti dengan Blue Ocean Strategy-nya Prof. W. Chan Kim adalah sebuah terobosan penting. Netscape membobol tembok informasi, yang bak senjata ampuh, menjadikan informasi bagi semua. Internet menjadi kebutuhan dan informasi menjadi sebuah keharusan bagai udara yang tidak perlu membayar.
Ketiga, keruntuhan tembok interaksi antaraplikasi dengan hadirnya konsep workflow yang mampu menjadi bahasa pengantar internasional baru bagi negara aplikasi yang punya pusat pemerintahan tersendiri. Workflow software mampu membuat “your application talk to my application while we have lunch”.
Ketiga flattener ini, menurut Friedman, menjadi dasar tujuh flattener lain, seperti open-sourcing, outsourcing, offshoring, supply-chaining, insourcing, in-forming, and the steroids, membentuk sebuah dunia yang benar-benar sangat flat, di mana hierarki dan birokrasi menjadi sangat sempit. Makanya kenapa saya melakukan bisnis Tianshi dan percaya atau tidak jaringan sudah ada dimana-mana dan nach ini enaknya saya jadi suka pergi dan bepergian kemana-mana serta banyak sekali temannya karena ada dimana-mana.
Pertanyaannya, bagaimana seorang pemimpin harus menyikapi dunia datar itu dengan membentuk sebuah gaya serta paradigma kepemimpinan yang cocok? Tak seorang pun pemimpin menolak kesimpulan Friedman. Bahkan, tak seorang pun pemimpin berani melawan kesimpulan Friedman dengan tidak menerapkan tiga flattener utama dalam perusahaannya kalau ingin survive dalam kompetisi saat ini. Semua sadar bahwa globalisasi 1.0 yang mengandalkan daya saing negara sudah mulai pupus. Globalisasi 2.0 yang mengunggulkan daya saing perusahaan mulai ragu karena terlibas oleh globalisasi 3.0 yang sangat menekankan daya saing individu untuk muncul sebagai pemenang dalam persaingan di dunia yang datar. Segitiga keunggulan daya saing negara, perusahaan, dan individu, kini mengerucut pada titik pokok kemampuan unggul individu.
Dalam konteks itu, setidaknya ada tiga hal yang harus disikapi oleh para pemimpin agar mampu menciptakan individu karyawan unggul dalam persaingan di globalisasi 3.0.
Pertama, perusahaan harus masuk ke dunia yang datar dengan mempercepat penerapan infrastruktur teknologi yang berbasis internet yang terintegrasi. Investasi untuk membuat perusahaan sejajar dengan perusahaan lain dalam era ini adalah sebuah keharusan. Sepuluh flattener harus dikaji secara mendasar dan dicari¬kan solusi untuk kendala yang ada dan pada saat yang sama mencari peluang yang terbuka lebar di dunia baru yang rata. Tanpa penyamaan level of playing field, perusahaan bak berada di lingkaran Tembok Berlin baru. Misalnya, penyediaan laptop untuk seluruh karyawan bukanlah soal gaya. Laptop adalah alat untuk agar bisa “berperang”. Kebutuhan PDA dengan kemampuan MP3 recording, alat foto, video, internet browser, dan telepon satelit akan jadi alat yang harus dipunyai seorang reporter. Kolaborasi antarkelompok riset, bidang produksi, dan bidang penjualan dari lima benua merupakan kebutuhan yang sama dengan makan nasi bagi orang Indonesia. How flat are you in the flattened world? How low can you go not to be flat? How long does it take for you to go flat?
Kedua, setelah flat, berlanjut ke pertanyaan penting lainnya: How “fast” are you in the flattened world? Kalau dunia sudah datar, hambatan makin berkurang, kecepatan mobil harus setara dengan F1 kalau mau bertanding di tingkat global atau setidaknya setara A1 kalau mau bertarung di tingkat regional. Kecepatan pengembangan kompetensi karyawan, misalnya, menjadi “it’s up to the individual”. Tak ada batasan harus tahu yang ini dahulu baru bisa tahu yang itu. Dalam dunia yang tanpa batas, kompetensi karyawan menjadi tak terbatas. Makin ia mau bergerak, makin cepat ia dewasa. Junior-Senior, Manajer-Supervisor, General Manager-Direktur, Reporter-Pemegang Rubrik, menjadi batasan yang makin sulit ditentukan. Kompetensi akan makin mudah dikejar dan malah dalam banyak hal yang junior akan makin cepat meningkatkan kompetensi karena kemampuan bahasa, daya cerna, dan network mereka yang kian luas. Faktor pembeda hanya satu, yakni pengalaman dan wisdom. Itu pun dalam waktu singkat akan mudah diadopsi.
Ketiga, makin flat dan makin fast akan menuntut pemimpin menjadi makin focus. Produk dan jasa yang ditawarkan harus makin fokus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan pada segmen tertentu. Makin fokus, potensi mendunia akan makin cepat dibandingkan dengan makin melebar. Dunia yang flat dan fast menuntut pemimpin mampu mengalokasikan sumber daya dan sumber dana pada hal-hal tertentu yang membuat setiap individu tampil menjadi jawara unggulan. Setiap head count harus unggul dan mempunyai keunggulan. Kalau tidak, sebaiknya di-outsource. Tak ada individu yang berdiri di grey area. McDonald’s menjadi waralaba besar, Chik a Fila menjadi waralaba dengan profit per channel tertinggi, Microsoft dengan market capitalization yang terbesar, Google dengan jasa yang spesifik, eBay dengan komunitas dan teknologi yang tidak lebar, dan Tianshi (Tiens) Group dengan product kesehatannya, membuktikan bahwa focus akan menjadi andalan di dunia yang datar. How focus are you right now? How many competitors are in your specific products?
Flat, fast, dan focus harus menjadi tiga kata idaman setiap pemimpin. Tanpa itu, organisasi yang dipimpinnya hanya akan menjadi pemain pendamping dan penggembira. Bisa beromzet besar, tetapi tak mampu memberikan impact pada dunia yang datar ini. Tak salah jadi pemain penggembira atau the others dalam peringkat market share. Namun, kalau bisa jadi pemain unggulan, mengapa tidak?
(ya harus dicoba dunk hehehe…...)
Penulis adalah peminat studi kepemimpinan, direktur pemasaran sebuah perusahaan terbuka
Rabu, 22 Maret 2006 09:32 WIB – warta ekonomi.com
Kiriman:
Nadirotul Azizah
ID Tianshi no: 9111.5788






















Recent Comments